Friday, May 06, 2011

Taubat Nasuha: Apakah ia?

Ihsan Dari Google

Taubat adalah kembali kepada Allah setelah melakukan maksiat. Taubat merupakan rahmat Allah yang diberikan kepada hamba-Nya agar mereka dapat kembali kepada-Nya.

Agama Islam tidak memandang manusia bagaikan malaikat tanpa kesalahan dan dosa sebagaimana Islam tidak membiarkan manusia berputus asa dari keampunan Allah, betapa pun dosa yang telah diperbuat manusia. Bahkan Nabi Muhammad telah membenarkan hal ini dalam sebuah sabdanya yang berbunyi: "Setiap anak Adam pernah berbuat kesalahan/dosa dan sebaik-baik orang yang berbuat dosa adalah mereka yang bertaubat (dari kesalahan tersebut)."

Di antara kita pernah berbuat kesalahan terhadap diri sendiri sebagaimana terhadap keluarga dan kerabat bahkan terhadap Allah. Dengan segala rahmatnya, Allah memberikan jalan kembali kepada ketaatan, keampunan dan rahmat-Nya dengan sifat-sifat-Nya yang Maha Penyayang dan Maha Penerima Taubat. Seperti diterangkan dalam surat Al Baqarah: 160 "Dan Akulah yang Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang."

Taubat dari segala kesalahan tidaklah membuat seorang terhina di hadapan Tuhannya. Hal itu justeru akan menambah kecintaan dan kedekatan seorang hamba dengan Tuhannya karena sesungguhnya Allah sangat mencintai orang-orang yang bertaubat dan mensucikan diri. Sebagaimana firmanya dalam surat Al-Baqarah: 222, 
"Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri."
Taubat dalam Islam tidak mengenal perantara, bahkan pintunya selalu terbuka luas tanpa penghalang dan batas. Allah selalu menbentangkan tangan-Nya bagi hamba-hamba-Nya yang ingin kembali kepada-Nya. Seperti terungkap dalam hadis riwayat Imam Muslim dari Abu musa Al-Asy`ari: "SesungguhnyaAllah membentangkan tangan-Nya di siang hari untuk menerima taubat orang yang berbuat kesalahan pada malam hari sampai matahari terbit dari barat."

Merugilah orang-orang yang berputus asa dari rahmat Allah dan membiarkan dirinya terus-menerus melampaui batas. Padahal, pintu taubat selalu terbuka dan sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya karena sesungguhnya Dialah yang Maha Pengampun lagi Maha penyayang.

Tepatlah kiranya firman Allah SWT dalam surat Ali Imran ayat: 133, 
"Bersegeralah kepada ampunan dari tuhanmu dan kepada syurga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa yaitu orang-orang yang menafkahkan hartanya baik di waktu lapang maupun sempit dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan juga orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampunan terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui."
Taubat yang tingkatannya paling tinggi di hadapan Allah adalah "Taubat Nasuha", yaitu taubat yang murni. Sebagaimana dijelaskan dalam surat At-Tahrim: 66, 
"Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam sorga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang yang beriman bresamanya, sedang cahaya mereka memancar di depan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan 'Ya Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kamidan ampunilah kami, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu'".
Taubat Nasuha adalah bertaubat dari dosa yang diperbuatnya saat ini dan menyesal atas dosa-dosa yang dilakukannya di masa lalu dan berjanji untuk tidak melakukannya lagi di masa medatang. Apabila dosa atau kesalahan tersebut terhadap bani Adam (sesama manusia), maka caranya adalah dengan meminta maaf kepadanya. Rasulullah pernah ditanya oleh seorang sahabat, "Apakah penyesalan itu taubat?", "Ya", kata Rasulullah (H.R. Ibnu Majah). Amr bin Ala pernah mengatakan: "Taubat Nasuha adalah apabila kamu membenci perbuatan dosa sebagaimana kamu pernah mencintainya".

Ciri Ciri Taubat Nasuha

CIRI UNTUK TAWBAT NASUHA


Sudah tentu sebelum ia berlaku wahai umat Islam yang dikasihi sekalian, ubat dan 'antidot' adalah taubat dari kedua-dua belah pihak dengan taubat nasuha yang penuh kesungguhan dan keinsafan. Justeru, bagi mencapai taubat yang sebenar ini. Ia adalah seperti berikut :-

1) Bertaubat yang timbul dari ilmu dan kesedaran Islam dan bukan kerana desakan luaran. Jika belum ketemui ilmu itu, cari dan bacalah sedalamnya agar taubat ini lahir dari ilmu dan iman bukannya yang lain.

Imam Al Bukhari menyebut tentang keperluan sesuatu amal dan ibadah termasuklah taubat yang diakari oleh ilmu di dalam shahihnya hingga dibuat satu bab khas bertajuk : bab: "Ilmu sebelum beramal". Beliau menyebut firman Allah SWT berikut sebagai dalil keperluan ini:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوَاكُمْ

Ertinya : Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (Yang Hak) melainkan Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat tinggalmu (Muhammad: 19)

Jelas disebut di dalam ayat berkenaan didahulukan perintah untuk berilmu dari perintah untuk beristighfar dan taubat.

Al-Qusyairi berkata dalam kitabnya "Risalah Qusyairiah": taubat yang pertama adalah: bangunnya hati dari kelalaian, serta sang hamba melihat keadaan yang buruk akibat dosa yang ia lakukan. Dan itu akan mendorongnya untuk mengikuti dorongan hati nuraninya agar tidak melanggar perintah Allah SWT. Kerana dalam khabar disebutkan: "penasihat dari Allah SWT terdapat dalam hati setiap orang muslim". (Riwayatkan Ahmad dari An Nuwas bin Sam'an). Dan dalam hadith:

Ertinya : "Sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging, jika ia baik maka baiklah seluruh tubuh, dan jika ia rusak maka rusaklah seluruh tubuh, ketahuilah itulah hati". (Hadits muttafaq alaih dari Nu'man bin Basyir).

Jika hatinya merenungkan keburukan perbuatannya, serta ia menyedari dosa-dosa yang ia perbuat itu, nescaya dalam hati akan terdetik keinginan untuk bertaubat, dan menjauhkan diri dari melakukan perbuatan maksiat itu. Kemudian Allah SWT akan membantunya dengan menguatkan tekadnya itu, melakukan tindakan pemulihan atas dosa-dosanya, serta melakukan perbuatan-perbuatan yang diperlukan dalam taubat. (Risalah Qusyairiah dengan tahqiq Dr. Abdul Halim Mahmud, dan Dr. Mahmud bin Syarif, (1/ 254, 255)


2) Bersangka baik bahawa Allah akan mengampunkan dosa yang telah terlanjur itu. Firman Allah :-

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Ertinya : Katakanlah: ""Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Az-Zumar: 53)

3) Segera menangisi dosa zina yang telah anda lakukan dengan benar-benar keinsafan. Anda perlu menitiskan air mata untuk ini, air mata insaf dan bukan dibuat-buat.

4) Berazam kukuh di dalam hati agar tidak lagi ingin kembali kepada perbuatan haram itu. Bukti azam kukuh itu adalah dengan membatalkan semua 'dating' dengan tunang itu dan tidak lagi berdua-duaan sehinggalah berkahwin.

Dr Yusof Al-Qaradawi menyebut : Yang terpenting dalam masalah azam dan tekad ini adalah agar azam itu kuat dan betul-betul, saat bertaubat. Dengan tanpa disertai oleh keraguan atau kerinduan untuk kembali melakukan kemaksiatan, atau juga berpikir untuk mengerjakannya kembali. Taubat itu tidak batal jika suatu saat tekadnya itu sedikit melemah kemudian ia terlena oleh dirinya, tertipu oleh syaitan sehingga ia terlanjur, dan kembali melakukan kemaksiatan. (At-Taubatu Ilallah, Al-Qaradawi )

Imam Ibnu Katsir berkata: "Sedangkan jika ia bertekad untuk bertaubat dan memegang teguh tekadnya, maka itu akan menghapuskan kesalahan-kesalahannya pada masa lalu. Seperti terdapat dalam hadits sahih "Islam menghapuskan apa yang sebelumnya, dan taubat menghapuskan dosa yang sebelumnya".

5) Wajib menjauhkan diri dari mendekati apa jua situasi yang boleh membawanya ke arah lembah zina tadi. Jangan berchat dan ber'sms' akan perkara yang boleh membangkitkan nafsu anda dan tunang. Hentikan dan putuskan talian jika perasaan itu mula mendatang.

6) Berterusan tawbat (selagi belum rasa hilang bersalah). Firman Allah SWT ertinya :

إِنَّمَا التَّوْبَةُ عَلَى اللّهِ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السُّوَءَ بِجَهَالَةٍ ثُمَّ يَتُوبُونَ مِن قَرِيبٍ فَأُوْلَـئِكَ يَتُوبُ اللّهُ عَلَيْهِمْ وَكَانَ اللّهُ عَلِيماً حَكِيماً

Ertinya : "Sesungguhnya tawbat di sisi Allah hanyalah tawbat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilannya yang kemudian mereka bertawabat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah Tawbatnya ( An-Nisa : 17)

7) Mempergandakan amal soleh, ia berdasarkan firman Allah :

إِلاَّ الَّذِينَ تَابُواْ وَأَصْلَحُواْ وَبَيَّنُواْ فَأُوْلَـئِكَ أَتُوبُ عَلَيْهِمْ وَأَنَا التَّوَّابُ الرَّحِيم

Ertinya : " Kecuali orang-orang bertawbat, beriman dan mengerjakan amal soleh; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan Allah maha pengampun lagi penyayang" ( Al-Furqaan : 70 ).

Justeru, banyakkan bersedeqah, mengajar orang lain, kenalan dan lain-lain agar menjauhi dosa zina dan menyedarkan sesiapa jua yang mampu tentang dosanya. Berbekalkan pahala kebaikan ini diharap ianya dapat menutup dan memadamkan dosa zina tadi.

TANDA SEMPURNA

Tanda kesempurnaan taubat adalah anda merasa bencinya untuk melakukan perbuatan terkutuk itu sebagaimana takutnya dilemparkan ke neraka atau lebih mudah untuk gambarannya adalah sebagaimana anda takut dan benci untuk mati 'accident' dengan kepala terburai dan pecah isi perut dalam keadaan zina.

Tanda kesempurnaan taubat juga adalah anda akan berubah dalam majoriti sifat dan rutin seharian anda kepada yang lebih baik. Ringan melakukan amal soleh dan suka bergaul dengan rakan-rakan dan solehah sahaja.

MENGULANGI SELEPAS TAWBAT ?

Imam Ibnu Kathir berkata: "apakah syarat taubat nasuha itu orang harus tetap bersikap seperti itu hingga ia mati, seperti diungkapkan dalam hadits dan atsar: "kemudian ia tidak kembali melakukannya selama-lamanya", ataukah cukup bertekad untuk tidak mengulangi lagi, untuk menghapus dosa yang telah lalu, sehingga ketika ia kembali melakukan dosa setelah itu, maka ia tidak merusak taubatnya dan menghidupkan kembali dosa yang telah terhapuskan, dengan melihat generalisasi pengertian hadith:

"Taubat menghapus dosa yang sebelumnya" [Tafsir Ibnu Katsir: 4/ 392].

Imam Ibnu Qayyim membicarakan hal ini dalam kitabnya "Madarij Salikin" dan menyebut dua pendapat:

Pertama : Suatu kemestian agar orang itu tidak mengulangi kembali dosanya sama sekali. Menurut pendapat ini, ketika ia kembali melakukan dosa, maka jelaslah taubatnya yang dahulu itu batal dan tidak sah.

Kedua : Ia pendangan majoriti ulama , 'tidak mengulangi' itu tidak menjadi syarat. Kesahihan taubat hanya ditentukan oleh tindakannya meninggalkan dosa itu, dan bertaubat darinya, serta bertekad dengan kuat untuk tidak mengulanginya lagi. Dan jika ia mengulanginya lagi padahal ia dahulu telah bertekad untuk tidak mengulang dosanya itu, maka saat itu ia seperti orang yang melakukan kemaksiatan dari permulaan sekali, sehingga taubatnya yang lalu tidak batal.

Kumpulan ini berpendapat, tidak disyaratkan dalam kesahihan taubat itu ia tidak pernah berdosa hingga mati. Namun jika ia telah menyesal dan meninggalkan dosa serta bertekad untuk meninggalkan sama sekali perbuatannya itu, niscaya dosanya segera terhapuskan. Dan jika ia kembali melakukannya, ia memulai dari baru catatan dosanya itu.

Namun, jangan tersilap memahami pandangan majoriti ini sebagai untuk menyematkan sikit azam untuk melakukannya lagi. Kerana jika terdapat azam dan niat jahat itu di celah hati tatkala taubat, taubat itu tidak sah menurut seluruh ulama dari kedua-dua kumpulan.

Taken from:
Zaharuddin Abd Rahman

www.zaharuddin.net

Antara tanda-tanda ataupun ciri-ciri orang yang bertaubat nasuha ini ialah :

1) Merasa menyesal atas dosa-dosa yang dilakukannya pada masa yang lalu.
2) Berazam untuk tidak akan mengulangi lagi kesalahan dan dosa yang dilakukan sebelum ini dengan sebenar-benar azam.
3) Banyak melakukan ibadah kepada Allah dan mendekat diri kepada Allah.
4) Banyak memberi sedekah dan amal jariyah sebagai penebus dosa yang dilakukan sebelum ini.
5) Meninggalkan perkara-perkara yang boleh membawanya mengulangi semula dosa yang lalu.

Ini lah antara ciri-ciri bagi orang yang benar-benar taubat.

"Orang mukmin apabila melakukan dosa dia merasa seolah-olah dosa itu umpama batu yang menimpa dirinya dan akan bersegera bertaubat, orang yang munafiq @ fasiq apabila melakukan dosa umpama lalat yang hinggap di muka hanya dikuis-kuis sahaja, dan lalat itu akan tetap datang kembali "…

Kesimpulannya :

Memang benar kita tidak boleh lari dari melakukan kesalahan dan dosa. Namun dengan iman yang kuat dan dekatnya diri kita kepada MAHA PENCIPTA, membuatkan kita sering beringat sebelum melakukan sesuatu. Oleh itu gunakanlah akal yang merupakankurniaan yang amat besar dari Allah sebagai wasilah untuk kita berfikir yang mana baik dan buruk. Gunakan iman untuk membezakan ianya halal ataupun haram, pahala ataupun dosa..

No comments:

Post a Comment

Terima kasih, Thank You, Syukran, Arigato, Shieh Shieh, Rumba Nandri, Kamsahamnida: Komen anda sangat dialu-alukan dan dihargai :)

My Babbling

Advice (14) Akhlak (39) Al-Quran (23) Allah (19) Awal Muharam (9) Belief (12) Books (41) Brain Food (15) Characteristics (29) Critical Thinking (26) Dakwah (88) Death (20) Dialogues (19) Doa (16) Dua' (13) Education (53) Family (34) Father (11) Friendship (27) Hadith (20) Health (55) Jokes (87) Knowledge (74) Life (85) Love (71) Lyrics (121) Man (33) Marriage (67) Motherhood (11) Motivation (74) My Reading (41) My Stories (210) Parents (13) Personality (19) Poem (44) Prayer (15) Prophet Muhammad s.a.w (15) Qoutes (72) Ramadhan (13) Real Life Story (15) Relationship (21) Religion (46) Sarcasm (18) Sarcastic (14) Short Story (75) Song (23) Tarbiyah (119) Tazkirah (108) Think out of the box (22) Where To Eat (6) Where to Go (3) Woman (56) Words (33) Work (14)